Rekam-Jejak.com SULAWESI BARAT – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti halaman Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulawesi Barat, Senin (20/7/2026). Usai upacara pembukaan Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri Tahun Anggaran 2026, para siswa mengikuti tradisi sakral pemotongan rambut dan penyiraman air bunga sebagai simbol dimulainya perjalanan mereka menjadi insan Bhayangkara.
Tradisi tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Sulawesi Barat, Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta. Dengan penuh ketelitian dan keikhlasan, Kapolda memotong sejumput rambut perwakilan siswa, kemudian menyiramkan air bunga ke atas kepala mereka sebagai penanda dimulainya proses pembentukan karakter dan jati diri calon anggota Polri.
Lebih dari sekadar prosesi seremonial, tradisi ini sarat akan nilai filosofis. Pemotongan rambut melambangkan ditinggalkannya sifat-sifat buruk, kebiasaan lama, sikap individualistis, manja, serta kurang disiplin. Sementara itu, penyiraman air bunga menjadi simbol penyucian hati, ketenangan jiwa, dan harapan agar para siswa senantiasa berpikir jernih, bertindak dengan kelembutan, serta mampu mengharumkan nama institusi di tengah masyarakat.
Di hadapan para siswa, Kapolda Sulbar menyampaikan pesan penuh makna agar mereka menjadikan momen tersebut sebagai awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik.
“Langkah ini adalah tanda kalian memulai babak baru. Tinggalkan segala sifat yang tidak pantas dimiliki seorang Bhayangkara. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, patuhi aturan, dan tanamkan rasa kasih pada sesama. Jadilah pribadi yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga mulia hatinya, sehingga kelak kalian benar-benar menjadi Bhayangkara yang dicintai, dipercaya, dan diharapkan oleh seluruh masyarakat Sulawesi Barat,” pesan Kapolda.
Prosesi berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan disambut semangat membara dari seluruh siswa. Mereka menyatakan kesiapan mengikuti seluruh rangkaian pendidikan dengan disiplin, menjaga amanah yang diberikan, serta berkomitmen mengabdikan diri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang profesional serta berintegritas.
Tradisi pemotongan rambut dan penyiraman air bunga menjadi penanda awal transformasi para calon Bhayangkara, bukan hanya dalam penampilan, tetapi juga dalam pembentukan karakter, mental, dan integritas sebagai bekal menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.













